Rabu, 10 Juni 2009


Boediono

03/03/2009 09:15
Tempat Tanggal Lahir: Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943
Istri: Herawati
Anak: dua orang

Pendidikan:
S1 bachelor of economics (hons), University of Western Australia ( 1967)
S2 master of economics, Monash university, Melbourne, Australia (1972)
S3 dokter ekonomi bisnis, Wharton School University of Pennsylvania, AS, (1979)

Karier:
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM)
Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR (1996-1997)
Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter (1997-1998)
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Ketua Bappenas) Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999)
Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (2005-2009)
Gubernur Bank Indonesia (2008-Mei 2009)


Nama Boediono tiba-tiba melejit dan diincar media massa. Bukan karena kiprahnya sebagai Gubernur Bank Indonesia, tapi karena dia menjadi pilihan calon presiden Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mendampingi dirinya dalam pilpres mendatang. Tak banyak yang mengenal Boediono, karena pria kelahiran Blitar ini tergolong irit bicara.

Doktor ekonomi bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, Amerika Serikat, ini memang dikenal sebagai ekonom bertangan dingin. Sepak terjang Boediono di dunia politik mulai bersinar saat ia menjabat sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Gotong Royong yang saat itu dipimpin oleh mantan Presiden Megawati. Bahkan, majalah Business Week menyatakan Boediono sebagai tokoh yang kompeten di bidangnya saat itu.

Sejak itulah berulang kali Boediono masuk di jajaran kabinet dan terakhir ia menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Banyak pelaku bisnis menilai Boediono orang yang tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja. Mungkin itu pula yang menjadi pertimbangan SBY memilih Boediono.

Bapak dua anak itu dikabarkan sesuai dengan lima kriteria cawapres yang pernah diumumkan SBY sebelumnya, yakni memiliki integritas, kapabilitas, loyal dan tak ada kepentingan, serta bisa diterima masyarakat. Meski demikian, banyak pula pihak yang meragukan kemampuan Boediono. Keraguan ini muncul terutama dari sejumlah partai yang berkoalisi dengan Partai Demokrat, semisal PKS, PKB, PAN dan PPP.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar