Rabu, 10 Juni 2009


Susilo Bambang Yudhoyono

03/03/2009 09:15

Tempat Tanggal Lahir:
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949

Karier:
Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia
Herzegovina (awal November 1995)
Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanada (1996-1998)
Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
Kepala Staf Teritorial ABRI (1998-1999)
Menteri Pertambangan dan Energi serta Menteri Koordinator Politik, Sosial
dan Keamanan (1999-2001)
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (2001-2004)
Presiden RI (tahun 2004- kini)


Susilo Bambang Yudhoyono lahir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada 9 September 1949 dari pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Setelah dewasa, Yudhoyono menikah dengan Kristiani Herawati yang adalah anak perempuan ketiga Jenderal (Purn.) Sarwo Edhi Wibowo (alm), tokoh yang berperan penting dalam penumpasan Partai Komunis Indonesia pada 1965-1966.

Sebagaimana mertuanya, karier militer Yudhoyono pun cemerlang. Ia, misalnya, pernah dipercaya sebagai Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). Jabatan tertingginya di militer adalah Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI) dengan pangkat Jenderal.

Ketika era reformasi bergulir, Yudhoyono berpindah panggung. Pada 29 Oktober 1999, ia diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Setahun kemudian, ia dilantik sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) sebagai buntut penyusunan kembali kabinet Abdurrahman Wahid.

Dengan keluarnya Maklumat Presiden pada 28 Mei 2001 pukul 12.00 WIB, Menko Polsoskam ditugaskan mengambil langkah-langkah khusus mengatasi krisis, menegakkan ketertiban, keamanan, dan hukum secepat-cepatnya lantaran situasi politik darurat yang dihadapi pemerintahan. Saat itu, Yudhoyono berselisih paham dengan Abdurrahman. Maka, ia pun dilengserkan.

Kartu Yudhoyono tak mati sampai di situ. Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri melantiknya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada 10 Agustus 2001. Tapi, lagi-lagi karena konflik internal, jabatan Menko Polkam ditinggalkannya pada 11 Maret 2004. Partai Demokrat kemudian mulai menggadang-gadangnya sebagai kandidat presiden dalam pemilu presiden 2004.

Pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai presiden dan berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla. Pasangan ini ternyata menang.

Yudhoyono merupakan Presiden Republik Indonesia pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, ia dilantik pada 20 Oktober 2004. (OMI/dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar